Arsip untuk Januari, 2010

h1

Shalat Sumber Cahaya Iman di dada Muslim

Januari 28, 2010

Salat merupakan tali pengikat ruhani yang sangat kuat antara seorang hamba dengan Penciptanya. Hubungan yang melambangkan kehinadinaan hamba di hadapan Tuhannya dan keagungan Sang Khaliq di depan hamba-Nya. Salat dengan gamblang menggambarkan kekecilan seorang hamba dan kebesaran Allah. Salat adalah sarana munajat mendekatkan diri kepada Allah.

Salat adalah tangga ruh dan kalbu orang-orang yang merindu Allah..Dengan salat mereka merajut malam di mihrab-mihrab mahabbah dan syauq sambil bercengkerama penuh nikmat dengan Tuhannya yang sedang membuka tirai-tirai langit bagi orang-orang yang sedang istighfar dan munajat. Lambungnya segan berdekatan dengan kasur-kasur empuk.

Mereka berdoa pada Tuhannya dengan air linangan air mata harap dan cemas Hati mereka terasa hangat tatkala lambingan munajat mereka panjatkan di relung-relung malam yang senyap. mereka menyibak awan dan gemintang dengan alunan panjang tasbih dan tahmid kepada Tuhan. Mereka getarkan pintu-pintu langit munajat cinta yang senantiasa bergelora di titian malam yang pendek..

Salat adalah tiang agama dan penyangga rusuk-rusuk dan organ-organ agama yang lain. Jika tiang utama hancur maka kelumpuhan akan segera terjadi pada organ-organ yang lain. Jika tiang utama ini melemah maka kehidupan agama tidak bisa diharapkan bergerak kembali. Keletihan jiwa akan merasuk kelumpuhan ruhani akan menjadi epedemi.

Salat sangat berpengaruh pada pembentukan akhlak dan moralitas seseorang. Dia mampu menjadi imunisasi paling manjur bagi pelakunya untuk terjauhkan dari semua kekejian dan kejahatan. Dia menjadi obat paling mujarab yang menentramkan jiwa para pelakunya dan mampu mencegah pelakunya untuk tidak terjebak dalam kerakusan dan ketamakan. Dia akan mampu menjaga pelakunya untuk senantiasa bersikap rendah hati dan tawadhu’ di hadapan siapa saja. Dia akan mampu mendongkrak harga diri pelakunya di hadapan siapapun yang menyombongkan diri di hadapan Allah.

Salat adalah munajat dan doa. Ia adalah taubat dan inabah. Ia adalah tasbih dan istighfar, tahmid dan takbir serta tahlil yang teramu dalam sebuah untaian prosesi indah menggapai nikmat pertemuan dengan Kekasih.

Salat menjadi terminal seorang hamba dalam perjalanan hidupnya untuk sejenak bersuka-ria bertemu dengan Tuhannya, Sang Maha Diraja. Dalam salatlah mereka merasakan kenikmatan ruhani dan jiwa yang sangat sensasional.. Bahkan ada yang mengatakan : Andaikata penduduk bumi tahu kenikmatan yang kami rasakan saat kami salat, pastilah mereka akan memenggal kepala kami dengan pedang-pedang nan tajam.

Dalam salat, kita menyucikan-Nya, bermunajat dengan firman-firman-Nya. Kita ruku’ dan sujud pada-Nya. Kita renungi kembali asal penciptaan kita yang berasal dari tanah dan unsur-unsur alam yang ada. Dari bahan tersebut, Dia melengkapi kita dengan kemauan dan kekuatan sehingga kita mampu menyucikan, menjunjung, menahan tuntutan fisik dan syahwat, meluruskan instink, menggelorakan kecenderungan menegakkan kesucian dan berusaha melawan penyimpangan-penyimpangan yang mengarah pada kekejian dan kejahatan.

Salat merupakan sarana mendidik jiwa dan memperbaharui semangat serta sebagai penyucian akhlak. Ia adalah tali penguat pengendali diri, pelipur lara, penyejuk jiwa dan pengaman dari rasa takut dan cemas. Ia akan menghancurkan kelemahan dan akan menjadi senjata ampuh bagi mereka yang merasa terasingkan.

Salat membersihkan jiwa dari sifat-sifat buruk. Dia akan menyingkirkan dunia dari hati pelakunya dan akan meletakkannya di telapak tangannya. Dia akan mencari dunia untuk dikendalikan dan bukan dunia yang mengendalikan dirinya.

Salat adalah kebun ibadah yang di dalamnya penuh dengan segala yang menyenangkan dan menggembirakan. Ada takbir, ada ruku’, ada berdiri, ada sujud, ada duduk dan tahiyyat yang di dalamnya penuh dengan munajat. Ia adalah cahaya yang ada di dalam hati seorang mukmin dan nur yang akan memberikan penerangan kala mereka dikumpulkan di padang mahsyar. Sebagaimana Rasulullah sabdakan :

الصلاة نور

Salat itu adalah cahaya (HR. Muslim).

Dengan salat kita minta pertolongan kepada Allah dengan segala kerendahan jiwa yang terekspresikan lewat ruku’ dan sujud, yang terekam dalam semarak doa dan munajat.



واستعينوا بالصبر والصلاة وإنها لكبيرة إلا على الخاشعين

Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk (Al-Baqarah : 45).

Salat akan terasa berat jika kekhusyuaan kita demikian hampa, ia akan terasa beban jika kita tidak merindukan pertemuan dengan Sanga Mahakasih. Sebaliknya salat akan terasa nikmat bagi orang-orang yang khusyu’, bagi mereka yang menjadikan salat sebagai tangga menuju pertemuan dengan Sang Khalik. Salat yang benar akan senantiasa mampu menjadi tameng dari maksiat-maksiat yang mungkin akan menenggelamkan ruhani kita dan merubuhkan pilar keimanan kita, serta mematikan potensi keihsanan kita :

اتل ما أوحي إليك من الكتاب وأقم الصلاة إن الصلاة تنهى عن الفحشاء والمنكر ولذكر الله أكبر والله يعلم ما تصنعون

Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Qur’an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan (Al-Ankabuut : 45).

Barang siapa yang menjaga salatnya, maka salat itu menjadi cahaya dan keterangan (bukti) serta penyelamat baginya di hari kiamat (HR. Ahmad, Ibnu Hibban dan Thabrani).

Meruyaknya kejahatan di tengah kita bisa saja terjadi yang berupa pemyimpangan, kekejian kekotoran-kekotoran ruhani sangat mungkin terjadi karena salat kita tidak lagi ada bobot nilai-nilai ilahiyahnya. Salat kita hanya berupa rangka-rangka dan gerak yang hampa ruhani. Salat kita laksana mayat yang tanpa ruh, salat kita telah mati saat kita melakukannya.

Ironi, jika peringatan rutin peristiwa Isra’ Mi’raj ya setiap tahun tidak melahirkan salat khusyu’ yang mampu menggetarkan nurani dan menembus hingga ke langit. Salat yang hampa kekhusyu’un dan hampa kerendahan hati akan melahirkan kehampaan-kehampaan baru yang tiada henti.

Maka, sudah saatnylah kita jadikan salat sebagai sumber cahaya yang akan menerangi perjalanan kita menuju Allah Yang Maha Kuasa.

h1

CINTA……by:KHAIRIL GIBRAN

Januari 28, 2010

kenapa kita menutup mata ketika kita tidur?
ketika kita menangis?
ketika kita membayangkan?
itu karena hal terindah di dunia tdk terlihat

ketika kita menemukan seseorang yang
keunikannya sejalan dengan kita, kita bergabung
dengannya dan jatuh ke dalam suatu keanehan
serupa yang dinamakan cinta.

Ada hal2 yang tidak ingin kita lepaskan,
seseorang yang tidak ingin kita tinggalkan,
tapi melepaskan bukan akhir dari dunia,
melainkan suatu awal kehidupan baru,
kebahagiaan ada untuk mereka yang tersakiti,
mereka yang telah dan tengah mencari dan
mereka yang telah mencoba.
karena merekalah yang bisa menghargai betapa
pentingnya orang yang telah menyentuh kehidupan
mereka.

Cinta yang sebenarnya adalah ketika kamu
menitikan air mata dan masih peduli terhadapnya,
adalah ketika dia tidak memperdulikanmu dan
kamu masih menunggunya dengan setia.

Adalah ketika dia mulai mencintai orang lain dan
kamu masih bisa tersenyum dan berkata
” aku turut berbahagia untukmu ”

Apabila cinta tidak bertemu bebaskan dirimu,
biarkan hatimu kembali ke alam bebas lagi.
kau mungkin menyadari, bahwa kamu menemukan
cinta dan kehilangannya, tapi ketika cinta itu mati
kamu tidak perlu mati bersama cinta itu.

Orang yang bahagia bukanlah mereka yang selalu
mendapatkan keinginannya, melainkan mereka
yang tetap bangkit ketika mereka jatuh, entah
bagaimana dalam perjalanan kehidupan.
kamu belajar lebih banyak tentang dirimu sendiri
dan menyadari bahwa penyesalan tidak
seharusnya ada, cintamu akan tetap di hatinya
sebagai penghargaan abadi atas pilihan2 hidup
yang telah kau buat.

Teman sejati, mengerti ketika kamu berkata ” aku
lupa ….”
menunggu selamanya ketika kamu berkata ”
tunggu sebentar ”
tetap tinggal ketika kamu berkata ” tinggalkan aku
sendiri ”
mebuka pintu meski kamu belum mengetuk dan
belum berkata ” bolehkah saya masuk ? ”
mencintai juga bukanlah bagaimana kamu
melupakan dia bila ia berbuat kesalahan,
melainkan bagaimana kamu memaafkan.

Bukanlah bagaimana kamu mendengarkan,
melainkan bagaimana kamu mengerti.
bukanlah apa yang kamu lihat, melainkan apa
yang kamu rasa,
bukanlah bagaimana kamu melepaskan melainkan
bagaimana kamu bertahan.

Mungkin akan tiba saatnya di mana kamu harus
berhenti mencintai seseorang, bukan karena orang
itu berhenti mencintai kita melainkan karena kita
menyadari bahwa orang itu akan lebih berbahagia
apabila kita melepaskannya.

kadangkala, orang yang paling mencintaimu adalah
orang yang tak pernah menyatakan cinta
kepadamu, karena takut kau berpaling dan
memberi jarak, dan bila suatu saat pergi, kau akan
menyadari bahwa dia adalah cinta yang tak kau
sadari

h1

renunganku

Januari 27, 2010

Jangan sesekali mengucapkan selamat tinggal jika kamu masih mau mencoba.

Jangan sesekali menyerah jika kamu masih merasa sanggup.

Jangan sesekali mengatakan kamu tidak mencintainya lagi jika kamu masih tidak dapat melupakannya….

h1

Cinta Allah

Januari 27, 2010

Ya… Allah… jadikan Cinta yang Engkau anugerahkan ini hanya untuk menCintai-Mu…

Jadikan Cinta ku pada pada seseorang adalah karena Cinta ku pada-Mu..

Jadikan Cinta seseorang padaku adalah karena Cinta nya pada-Mu..

Jadikan Cinta yang ada di hatiku ini untuk lebih mendekatkan diriku pada-Mu..

Jadikan Cinta ku pada-Mu lebih aku sukai daripada diriku sendiri dan orang-orang yang ku Cintai

h1

MURAH HATI

Januari 27, 2010
Rasulullah saw. menganjurkan kita untuk bermurah hati kepada siapapun. Orang yang murah hati akan disukai masyarakat dan dicintai Allah, mendapatkan curahan rahmat dan ampunan, rezekinya dilapangkan dan kehidupannya tentram serta sejahtera.

Sebaliknya sifat kikir dan bakhil diketegorikan sebagai sifat tercela yang harus ditinggalkan. Rasulullah saw. bersabda, “waspadalah terhadap sikap zalim, karena kezaliman akan menjadikan kegelapan di hari kiamat. Waspadalah terhadap sifat kikir, karena kekikiran adalah sifat yang telah menghancurkan umat-umat sebelummu. Sifat ini mendorong mereka tega melakukan pembunuhan dan melakukan hal-hal yang haram.” (HR. Muslim).

Perhatikanlah doa Rasulullah saw. yang diriwayatkan oleh sahabat anas, berikut ini,
“Ya Allah. Saya mohon perlindungan kepada-Mu dari sifat kikir dan malas, juga dari pikun, azab kubur dan cobaan semasa hidup dan setelah mati.” (HR. Muslim).

Allah SWT. berfirman, (yang artinya):
“…Dan barang siapa dijaga dirinya dari kekikiran, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. At-Taghaabun:16).

Murah hati dan dermawan merupakan dua sifat yang sudah menjadi tradisi kuat dalam kehidupan umat islam, dua sifat ini merupakan sebagian kecil dari akhlak-akhlak mulia umat islam yang bisa dirasakan dalam kehidupan keseharian. Bukti kesempurnaan iman seseorang.

Dalam bahasa Arab, kemurahan hati disebut dengan istilah “al-karam”. Kata ini mempunyai arti memberikan harta berharga miliknya dengan penuh kerelaan hati, atau membelanjakan harta miliknya untuk kebaikan.

Al-Qadhi Iyadh menyatakan bahwa kata al-karam, al-juud, dan as-sakha’ memiliki arti yang hampir mirip, namun sebagian ulama menegaskan bahwa ketiga kata tersebut mempunyai perbedaan arti dan penggunaan. Bagi mereka yang mendukung pendapat ini maka mereka mengartikan al karam dengan memberikan harta secara suka rela tidak disertai dengan kekhawatiran. As-sakha’ diartikan dengan suka memberikan harta kepada pihak lain dan tidak senang melakukan pekerjaan-pekerjaan yang tidak terpuji, dengan demikian maka arti kata as-sakha’ merupakan antonim dari kata at-taqtiir (kikir). Sedangkan kata al-juud berarti merelakan sepenuh hati harta miliknya yang ada di tangan orang, sehingga arti kata al-juud merupakan antonim dari kata asy-syikaayah (perasaan menyesal dan dongkol). [Asy-Syifaa’, 1/58]

Namun dalam kitab al-Ma’aajim al-Lughawiyyah tidak menerangkan perbedaan penggunaan ketiga kata ini, bahkan kitab ini menegaskan bahwa ketiga kata tersebut mempunyai arti yang sama.

Dari sekian banyak macam implementasi sifat murah hati, ada satu hal yang banyak disorot, yaitu bermurah hati kepada tamu, dengan cara menyambut dan menjamunya dengan baik. Bahkan sikap seperti ini adalah merupakan indikator kedalaman iman seseorang.

Dengan didasari prinsip kasih sayang dan kemuliaan islam, Rasulullah saw. menetapkan beberapa aturan untuk menghormati tamu. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Sa’id al-Khudri, Rasulullah menegaskan, “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya ia memuliakan tamunya.” Beliau mengucapkan kalimat ini sampai tiga kali. Kemudian para sahabat bertanya, “Bagaimana cara memuliakan tamu, wahai Rasulullah ?” Rasulullah menjawab. “Yaitu (dengan cara memberi jamuan kepada mereka) selama tiga hari. Adapun penghormatan/jamuan yang diberikan setelah itu adalah termasuk sedekah.” (HR. Ahmad, Abu Ya’la, dan al-Bazzar).

Al-Qur’an sangat menganjurkan sikap kedermawanan dan kemurahan hati. Allah SWT. berfirman, (yang artinya):
“Kamu tidak akan memperoleh kebajikan, sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apapun yang kamu infakkan, tentang hal itu sungguh, Allah Maha Mengetahui.” (QS. Ali ‘Imran:92).
“Barang siapa meminjami Allah dengan pinjaman yang baik maka Allah melipatgandakan ganti kepadanya dengan banyak. Allah menahan dan melapangkan (rezeki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.” (QS. Al-Baqarah:245).

Disisi lain Al-Qur’an juga menyinggung sifat kikir dan bakhil. Allah SWT. berfirman (yang artinya):
“Dan jangan sekali-kali orang-orang yang kikir dengan apa yang diberikan Allah kepada mereka dari karunia-Nya, mengira bahwa (kikir) itu baik bagi mereka, padahal (kikir) itu buruk bagi mereka. Apa (harta) yang mereka kikirkan itu akan dikalungkan (di lehernya) pada hari kiamat…” (QS. Ali ‘Imran:180)
“…Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menginfakkannya dijalan Allah, maka berikanlah kabar gembira kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) azab yang pedih, (ingatlah) pada hari ketika emas dan perak dipanaskan dalam neraka jahannam, lalu dengan itu disetrika dahi, lambung dan punggung mereka (seraya di katakana) kepada mereka, ‘inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah (akibat dari) apa yang kamu simpan itu’.” (QS. At-Taubah:34-35).

Membahas masalah kedermawanan dan kemurahan hati, Rasulullah adalah teladan utama yang harus menjadi panutan. Kedermawanan sudah menjadi karakter yang lekat dengan pribadi beliau, kemurahan hatinya bukan didorong oleh keinginan menyombongkan diri atau untuk dipuji, namun sikap mulia ini beliau lakukan atas dasar keikhlasan untuk mendapatkan keridhaan Allah SWT.

Rasulullah sangat perhatian terhadap anak yatim dan fakir miskin. Beliau sering memberi bantuan kepada umat Islam yang miskin yang tidak mampu bekerja atau yang hartanya habis karena untuk mendanai perjuangan fi sabilillah. Kedermawanannya sampai pada taraf mengalahkan kepentingan pribadi dan keluarganya. Kadang beliau memberikan sesuatu kepada seorang fakir padahal sebenarnya beliau sangat membutuhkan barang itu. Beliau mampu melakukan hal ini karena hatinya dihiasi dengan kesabaran dan disinari dengan sikap zuhud, hatinya tidak terikat dengan masalah keduniaan.

Al-Qur’an menegaskan, bahwa sikap al-iitsaar (lebih mementingkan orang lain) adalah sikap kedermawanan tertinggi dari bentuk-bentuk kedermawanan lainnya. Allah SWT. berfirman (yang artinya):
“…dan mereka mengutamakan (Muhajirin), atas dirinya sendiri, meskipun mereka juga memerlukan…” (QS. Al-Hasyr:9).

Diceritakan oleh sayyidah Aisyah, bahwa Rasulullah saw. tidak pernah merasa kenyang dalam waktu tiga hari berturut-turut, kondisi ini beliau alami hingga akhir hayatnya. “sebenarnya kalau kami mau,” kata Aisyah, “Kami akan kenyang tiap hari, namun kami lebih mementingkan orang lain dari pada diri kami sendiri.” [Ihyaa’ Uluumiddiin, 3/223]

Meskipun kehidupan Rasulullah saw. sangat sederhana, namun dalam masalah berinfak, beliau sangat perhatian sekali. Beliau selalu berusaha mengeluarkan bantuan atau infak sesuai dengan kemampuannya. Rasulullah selalu menganggap kecil harta yang diinfakkan, padahal jumlahnya sangat besar. Setiap kali ada orang yang meminta bantuan kepadanya, beliau pasti memberi apa yang dipunyai. Rasulullah saw. tidak pernah menolak permintaan siapa pun.

Suatu hari datang seseorang meminta bantuan kepada Rasulullah saw. kemudian beliau memberinya sejumlah domba yang memenuhi lapangan diantara dua gunung. Lalu orang tersebut kembali ke kaumnya dan berkata, “Masuk Islamlah kalian. sesungguhnya Muhammad tidak takut kekurangan (fakir) disaat memberi bantuan.”

Masih banyak cerita lain tentang kemurahan hati Rasulullah saw. diantaranya, adalah:
Pada suatu hari Rasulullah saw. diberi sejumlah uang dari Bahrain, beliau berkata kepada para sahabat, “Taruhlah (uang itu) di masjid!” Uang tersebut termasuk uang terbanyak yang pernah diterima. Kemudian beliau keluar rumah menuju masjid untuk melakukan shalat berjamaah. Beliau sama sekali tidak mempedulikan uang itu. Setelah selesai shalat, beliau menuju tempat dimana uang itu diletakkan dan duduk disampingnya. Setiap kali melihat ada orang yang lewat beliau memberinya uang tersebut hingga tidak ada satu dirham pun yang tersisa.

Karena dermawannya, Rasulullah tidak pernah menolak orang yang meminta-minta kepadanya dengan alasan sedang tidak mempunyai uang. Pada suatu hari Rasulullah saw. kedatangan saorang tamu yang meminta bantuan kepadanya. Kemudian Rasulullah berkata, “Saya sedang tidak punya apa-apa. Juallah sesuatu dan saya yang akan menanggung (barang itu kembali kepadamu lagi). Bila saya sudah punya uang saya akan mengganti biaya barangmu (yang kamu jual itu).” Melihat hal ini Umar berkata, “Wahai Rasulullah. Engkau sudah pernah memberinya bantuan sebelum ini. Allah tidak membebanimu dengan hal yang engkau tidak kuasa menanggungnya,” Rasulullah kurang senang dengan usulan Umar ini. Kemudian ada seorang Anshar yang berkata, “Wahai Rasulullah. Teruslah memberi nafkah. Jangan khawatir, Tuhan pemilik ‘Arasy tidak akan membuatmu kekurangan.” Mendengar ucapan ini beliau tersenyum dan tampak ada kegembiraan terpancar dari wajah mulianya. Kemudian beliau berkata, “Sikap seperti inilah, yang diperintahkan kepada saya untuk melakukannya.” [Al-Mawaahib al-Laduniyyah, 209]

Rasulullah saw. selalu bersikap murah hati kepada siapapun, kepada laki-laki, perempuan dan juga anak-anak.

Sahabat Jabir berkata, “Ketika Rasulullah sedang duduk, ada anak kecil datang menghampiri dan berkata kepadanya, ‘Sesungguhnya ibuku meminta pakaian darimu.’ Rasulullah saw. menjawab, ‘Nanti sebentar lagi, ketika siang datang kamu datang kesini lagi.’ Anak kecil itu kembali menghadap ibunya, dan ibunya berkata kepadanya, ‘Kembalilah kamu kpada Rasulullah dan berkatalah kepadanya, ‘Ibuku meminta baju yang kamu kenakan.’ Anak itu pun kembali kepada Rasulullah dan mengutarakan keinginan Ibunya. Rasulullah kemudian masuk ke dalam rumah, melepas pakaian yang dikenakannya dan memberikannya kepada anak kecil itu. Saat itu waktu shalat tiba, Bilal sudah selesai mengumandangkan adzan dan kaum muslimin menunggu Rasulullah mengimami shalat. Namun Rasulullah tidak kunjung keluar karena masih berbenah diri sebab bajunya diberikan kepada anak kecil itu.” [Al-Kasysyaaf, 1/546]

Suatu hari ar-Rabi’ binti Mu’awwidz datang kepada Rasulullah dengan membawa nampan penuh dengan kurma dan buah-buahan. Ketika hendak pulang Rasulullah memberinya perhiasan dan emas sebanyak genggaman tangan beliau. Hal ini –sebagaimana dikatakan oleh Aisyah– setiap kali Rasulullah menerima hadiah, beliau memberi balasan kepada orang yang memberinya hadiah itu.

Rasulullah saw. sangat senang bila ada hidangan yang dimakan bersama-sama. Semakin banyak orang yang bergabung, beliau semakin senang. Bila bulan Ramadhan tiba, tidak ada satu pun hidangan yang disimpan oleh beliau di dalam rumahnya. Rasulullah adalah orang yang paling dermawan dan murah hati.

Ada seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah saw., Sedekah yang bagaimanakah yang paling utama ? Rasulullah menjawab, “Yaitu sedekah yang kamu berikan di saat kamu dalam keadaan sehat dan masih punya semangat tinggi, masih punya harapan untuk kaya dan khawatir miskin. Jangan kamu menunda-nunda (memberi sedekah) hingga nyawa sampai tenggorokan dan kamu baru berkata, untuk fulan mendapat bagian sekian, fulan mendapat bagian sekian dan yang ini untuk si fulan.” (HR. al-Bukhari)

Ada seorang sahabat lagi yang bertanya, Amalan-amalan Islam yang bagaimanakah yang paling baik ? Rasulullah menjawab, “Kamu mau memberi makan, mengucapkan salam kepada orang yang kemu kenal dan orang yang tidak kamu kenal.”

Rasulullah pernah berkata kepada Asma binti Abu Bakar, “Berinfaklah. Janganlah kamu menghitung-hitung (hartamu [kikir]), nanti Allah akan menghitung (kejelekan-kejelekan)mu. Jangan pula kamu menyembunyikan (hartamu), nanti Allah akan menyimpan (kejelekan-kejelekanmu untuk kemudian dibeberkan di hari Akhir).” [Al-Lu’lu’ wal-Marjaan, 1/244]

Rasulullah saw. juga menerangkan perbandingan antara dermawan dengan orang yang kikir. Beliau bersabda, “Seorang dermawan dekat dengan Allah, dekat dengan manusia dan dekat dengan surga. Adapun orang yang kikir jauh dari Allah, jauh dari manusia, jauh dari surga dan dekat dengan neraka.” [Taysiirul-Wushuul, 2/88]

“Disaat para hamba (memulai aktivitas) di pagi hari ada dua malaikat yang turun ke bumi. Salah satu diantara mereka berdoa, ‘Ya Allah, berikanlah ganti orang yang mau berinfak’. Sedangkan yang satunya lagi berdoa, ‘Ya Allah, berikanlah kehancuran kepada orang yang enggan berinfak’.”

Diringkas dari: Akhlak Rasul Menurut Bukhari-Muslim, penulis Abdul Mun’im al-Hasyimi, diterjemahkan oleh Abdul Hayyie al-Kattani, Gema Insani, 2009.
Bab. Murah Hati dan Menjamu Tamu dengan Baik.

h1

SANG DEWI BY TITI DJ

Januari 25, 2010

walaupun jiwaku pernah terluka

hingga nyaris bunuh diri

wanita mana yg sanggup hidup sendiri didunia ini

walaupun tlah kututup mata hati begitupun telingaku

namun bila dikala cinta memanggilmu dengarlah ini

walaupun dirimu tak bersayap ku akan percaya

kau mampu terbang bawa diriku tanpa takut dan ragu

walaupun mulutku pernah bersumpah

tak sudi lagi jatuh cinta

wanita seperti dirikupun ternyata mudah menyerah…

walaupun kau bukan titisan dewa ku takkan kecewa

karna kau jadikanku sang dewi dalam taman surgawi……

kupersembahkan untuk seorang malaikat (AN)

h1

AKU AKUI…HATIKU TELAH DIAMBIL OLEHNYA

Januari 23, 2010

Ya Allah…mengapa kau beri aku rasa ini,aku tak sanggup,aku ingin bertemu dgnnya,atau sekedar mendengar suaranya…

Aku bersyukur masih kau beri rasa cinta,meski aku tau orang yang ku cinta sama sekali tak ada rasa kepadaku..aku menikmati rasa cinta ini,karna ini adalah anugrah darimu,Meski aku hanya kenal di dunia maya,meski aku tak tau wujudnya,tapi hatiku telah diambil olehnya.

kadang aku mengkhayal,meski dirinya cacat,meski dirinya tdk berlimpah materi,meski dirinya “jelek” aku tetap mencintainya.. aku mencintai dia karna Mu Ya Allah,aku merasa hatinya besar,dia lembut,dia baik,perhatian…aku merasa dia bisa membimbingku untuk menemuiMU,bisa menjadi IMAM untukku,bisa menjadi panutan untuk anak2ku

Ya Allah,apakah kau akan mempertemukan aku dengannya?bila Tidak aku pun ikhlas,aku tahu ENGKAU selalu berikan aku yang terbaik..aku terima rasa Cinta ini,meski cinta ini tidak berbalas,aku terima,aku bersyukur pernah bertemu dengannya walau hanya didunia yg tidak nyata,hanya didunia maya..aku bersyukur engkau telah kirimkan dia untuk menolongku,untuk menemaniku menjalani takdirku…

Ya Allah berilah dia yg terbaik,dalam segala hal,aku tahu aku tak bisa menggapainya,aku hanya bisa mendoakannya…Lindungilah dia selalu ya Allah,berilah selalu kelancaran dalam rejekinya,berilah dia pendamping yg baik,setia dan tulus mencintainya..

Terimakasih Ya Allah,kau beri aku malaikat,meski aku tak bisa melihatnya,meski aku tak bisa menggapainya,tapi aku kau beri rasa cinta

Aku berikan kasih sayang yg tulus untuknya,semoga Allah selalu bersamanya

Sekali lagi TERIMAKASIH YA ALLAH….sampaikan salam hormatku untuknya

for seseorang dengan inisial AN…

h1

UNGKAPAN SEDERHANA UNTUK ISTRI TERCINTA

Januari 23, 2010

Ungkapan Sederhana Untuk Istri Tercinta
oleh : Ustd. M.Fauzil Adhim
di copy dari notes seorang teman.

Bila malam sudah beranjak mendapati subuh, bangunlah sejenak. Lihatlah istri anda yang sedang terbaring letih menemani bayi anda. Tataplah wajahnya yang masih dipenuhi oleh gurat-gurat kepenatan karena seharian ini badannya tak menemukan kesempatan untuk istirah barang sekejap. Kalau saja tak ada air wudhu yang membasahi wajah itu setiap hari, barangkali sisa-sisa kecantikannya sudah tak ada lagi.

Sesudahnya, bayangkanlah tentang esok hari. Disaat anda sudah bisa merasakan betapa segar udara pagi, tubuh letih istri anda barangkali belum benar-benar menemukan kesegarannya. Sementara anak-anak sebentar lagi akan meminta perhatian bundanya, membisingkan telinganya dengan tangis serta membasahi pakaiannya dengan pipis tak habis-habis. Baru berganti pakaian, sudah dibasahi pipis lagi. Padahal tangan istri anda pula yang harus mencucinya.

Disaat seperti itu, apakah yang anda pikirkan tentang dia?

Masihkan anda memimpikan tentang seorang yang akan senantiasa berbicara lembut kepada anak-anaknya seperti kisah dari negeri dongeng sementara disaat yang sama anda menuntut dia untuk menjadi istri yang penuh perhatian, santun dalam berbicara, lulus dalam memilih setiap kata serta tulus dalam menjalani tugasnya sebagai istri, termasuk dalam menjalani apa yang sesungguhnya bukan kewajiban istri tetapi dianggap sebagai kewajibannya.

Sekali lagi, masihkan anda sampai hati mendambakan tentang seorang perempuan yang sempurna, yang selalu berlaku halus dan lembut? Tentu saja saya tidak tengah mengajak anda membiarkan istri membentak anak-anak dengan mata membelalak. Tidak. Saya hanya ingin mengajak anda melihat bahwa tatkala tubuhnya amat letih, sementara suami tak pernah menyapa jiwanya, maka amat wajar kalau ia tak sabar.

Begitu pula manakala matanya yang mengantuk tak kunjung memperoleh kesempatan untuk tidur nyenyak sejenak, maka ketegangan emosinya akan menanjak. Disaat itulah jarinya yang lentik bisa tiba-tiba membuat anak menjerit karena cubitannya yang bikin sakit.

Apa artinya? Benar, seorang istri shalihah memang tak boleh bermanja-manja secara kekanak-kanakan, apalagi sampai cengeng. Tetapi istri shalihah tetaplah manusia yang membutuhkan penerimaan. Ia juga butuh diakui, meski tak pernah meminta kepada anda.

Sementara gejolak-gejolak jiwa memenuhi dada, butuh telinga yang mau mendengar. Kalau kegelisahan jiwanya tak pernah menemukan muaranya berupa kesediaan utuk mendengar, atau ia tak pernah anda akui keberadaannya, maka jangan pernah menyalahkan siapa-siapa kecuali dirimu sendiri jika ia tiba-tiba meledak.

Jangankan istri anda yang suaminya tidak terlalu istimewa, istri Nabi pun pernah mengalami situasi-situasi yang penuh ledakan, meski yang membuatnya meledak-ledak bukan karena Nabi SAW tak mau mendengarkan melainkan semata karena dibakar api kecemburuan. Ketika itu, Nabi SAW hanya diam menghadapi ‘Aisyah yang sedang cemburu seraya memintanya untuk mengganti mangkok yang dipecahkan.

Ketika menginginkan ibu anak-anak anda selalu lembut dalam mengasuh, maka bukan hanya nasehat yang perlu anda berikan. Ada yang lain. Ada kehangatan yang perlu anda berikan agar hatinya tidak dingin,apalagi beku, dalam menghadapi anak-anak setiap hari. Ada penerimaan yang perlu kita tunjukkan agar anak-anak itu tetap menemukan bundanya sebagai tempat untuk memperoleh kedamaian, cinta dan kasih sayang.

Ada ketulusan yang harus anda usapkan kepada perasaan dan pikirannya, agar ia masih tetap memilki energi untuk tersenyum kepada anak-anak anda, sepenat apapun ia.

Ada lagi yang lain : PENGAKUAN. Meski ia tak pernah menuntut, tetapi mestikah anda menunggu sampai mukanya berkerut-kerut.

Karenanya, anda kembali ke bagian awal tulisan ini. Ketika perjalanan waktu melewati tengah malam, pandanglah istri anda yang terbaring letih itu, lalu pikirkanlah sejenak, tak adakah yang bisa anda lakukan sekedar mengucapkan terima kasih atau menyatakan sayang bisa dengan kata yang berbunga-bunga, bisa tanpa kata. Dan sungguh, lihatlah betapa banyak cara untuk menyatakannya. Tubuh yang letih itu, alangkah bersemangatnya jika di saat bangun nanti ada secangkir minuman hangat yang diseduh dengan dua sendok teh gula dan satu cangkir cinta.

Sampaikan kepadanya ketika matanya telah terbuka,“ada secangkir minuman hangat untuk istriku. Perlukah aku hantarkan untuk itu?“

Sulit melakukan ini? Ada cara lain yang bisa anda lakukan. Mungkin sekedar membantunya meyiapkan sarapan pagi untuk anak-anak, mungkin juga dengan tindakan-tindakan lain, asal tak salah niat kita. Kalau anda terlibat dengan pekerjaan di dapur, memandikan anak, atau menyuapi si mungil sebelum mengantarkannya ke TK, itu bukan karena gender-friendly; tetapi semata karena mencari ridha Allah, sebab selain niat ikhlas karena Allah, tak ada artinya apa yang anda lakukan.

Anda tidak akan mendapati amal-amal anda saat berjumpa dengan Allah di yaumil-qiyamah. Alaakullihal, apa yang ingin anda lakukan, terserah anda. Yang jelas, ada pengakuan untukknya, baik lewat ucapan terima kasih atau tindakan yang menunjukkan bahwa dialah yang terkasih. Semoga dengan kerelaan anda untuk menyatakan terima kasih, tak ada airmata duka yang menetes baginya, tak adal lagi istri yang berlari menelungkupkan wajah di atas bantal karena merasa tak didengar. Dan semoga pula dengan perhatian yang anda berikan lepadanya, kelak istri anda akan berkata tentang anda sebagaimana Bunda ‘Aisyah RA berucap tentang suaminya, Rasulullah SAW,”Ah, semua perilakunya menakjubkan bagiku”.

Sesudah engkau puas memandangi istrimu yang terbaring letih, sesudah engkau perhatikan gurat-gurat penat di wajahnya, maka biarkanlah ia sejenak untuk meneruskan istirahatnya. Hembusan udara dingin yang mungkin bisa mengusik tidurnya, tahanlah dengan sehelai selimut untuknya.

Hamparkanlah ke tubuh istrimu dengan kasih sayang dan cinta yang tak lekang oleh perubahan. Semoga engkau termasuk laki-laki yang mulia, sebab tidak memuliakan wanita kecuali laki-laki yang mulia.

Sesudahnya, kembalilah ke munajat dan tafakkurmu. Marilah anda ingat kembali ketika Rasulullah SAW berpesan tentang istri. “wahai manusia, sesungguhnya istri kalian mempunyai hak atas kalian sebagaimana kalian mempunyai hak atas mereka. Ketahuilah.”kata Rasulullah SAW melanjutkan.” kalian mengambil wanita itu sebagai amanah dari Allah, dan kalian halalkan kehormatan merreka dengan kitan Allah. Takutlah kepada Allah dalam mengurusi istri kalian. Aku wasiatklan atas kalian untuk selalu berbuat baik.”

Anda telah mengambil istri anda sebagai amanah dari Allah. Kelak anda harus melaporkan kepada Allah Ta’ala bagaimana anda menunaikan amanah dari-Nya. Apakah anda mengabaikannya sehingga guratan-guratan dengan cepat menggerogoti wajahnya, jauh awal dari usia yang sebenarnya? Ataukah, anda sempat tercatat selalu berbuat baik untuk istri.

http://muchroji.multiply.com/journal/item/3558/Ungkapan_Sederhana_Untuk_Istri_Tercinta

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.