
Anda mungkin pernah mendengar orang mengatakan; “gue yang susah-susah
membangun semuanya ini, tapi yang menikmatinya malah orang-orang
sesudah gue.” Sounds familiar ya? Benar. Karena memang banyak orang
yang merasa berat untuk merelakan orang lain menikmati sukses itu.
Jadi, tidak mengherankan jika ada orang yang merasa bahwa semua jerih
payah yang sudah dilakukannya belum tertebus. Sehingga, dia merasa
pantas untuk mendapatkan semua imbalannya. Lantas berebut mendapatkan
kedudukan. Dan berusaha mati-matian untuk mempertahankannya selama
mungkin.
Dalam salah satu sesi radio talkshow, seorang pendengar menelepon
kami. Ketika itu kami sedang membahas tentang pelajaran yang
disampaikan seekor kupu-kupu kepada manusia. Kita belajar bagaimana
sang ulat yang buruk rupa berupaya keras membangun dirinya, hingga
kemudian berhasil bermetamorfosis menjadi kupu-kupu yang indah. Kata
sang penelepon;”Tapi, setelah sang ulat sukses menjadi kupu-kupu
indah malah cepat menjadi mati. Mengapa mesti begitu?”
Saya beruntung mendapatkan pertanyaan serupa itu. Karena pertanyaan
itu membawa kita kepada sebuah kesadaran akan banyak hal. Bagi saya,
perilaku yang ditunjukkan oleh sang kupu-kupu mengisyaratkan tiga hal
penting. Pertama, kesadaran tentang betapa kita bertanggung jawab
untuk mempersiapkan generasi penerus, atau yang biasa kita sebut
sebagai talent management. Kedua, kesadaran atas betapa indahnya
membebaskan diri dari sifat monopoli dan keserakahan. Dan ketiga,
kesadaran tentang hadiah terindah yang disediakan bagi orang-orang
yang berhasil membuat hidupnya bermakna.
Apa yang diajarkan sang kupu-kupu tentang talent management? Katanya,
kita semua bertugas untuk menjadi orang yang memiliki keunggulan.
Keunggulan itu bisa membawa kita kepada pencapaian yang tinggi. Dan,
sesaat setelah kita meraih pencapain tinggi itu, kita mesti mulai
mewujudkan tanggungjawab untuk mempersiapkan generasi penerus. Dengan
begitu kita bisa membantu orang lain menapaki pencapaian yang tinggi
pula.
Seekor kupu-kupu membawa sebuah misi yang sangat agung. Yaitu;
menghasilkan telur. Dan, telur-telur itu menetas menjadi ulat, untuk
kemudian bermetamorfosis menjadi kupu-kupu lainnya. Ulat sendirian
tidak bisa bertelur untuk menjaga kelangsungan hidup spesiesnya.
Sehingga, menjadi kupu-kupu tiada lain adalah menjadi penghubung
antara generasi masa kini dan masa depan. Artinya, ketika memilih
kita untuk menjadi manusia sukses dihari ini; sesungguh alam tengah
menurunkan mandat kepada kita untuk menjadi jembatan antara sukses
masa kini dan masa depan melalui generasi-generasi baru yang kita
persiapkan untuk menggantikan kita.
Pemahaman ini juga mengantarkan kita terhadap kesadaran atas betapa
indahnya membebaskan diri dari sifat monopoli dan keserakahan itu.
Seperti yang dikatakan sang penelepon tadi; sang kupu-kupu rela mati
tak lama setelah itu. Berkebalikan dengan kupu-kupu; kita para
manusia sering menginginkan kesuksesan itu menjadi milik kita selama-
lamanya. Kita takut jika kedudukan yang kita sandang ini berpindah
tangan, atau dikembalikan kepada sang pemilik mandat. Makanya, tidak
heran jika kita selalu sibuk dengan usaha-usaha untuk mempertahankan
posisi bagus itu untuk diri kita. Kita lupa bahwa masa kita sudah
tiba. Dan kini giliran orang lain untuk menikmati sukses itu.
Padahal, seperti sang kupu-kupu seharusnya kita tidak terjebak pada
keindahan diri. Sebab, sesaat setelah menjadi indah; kita mempunyai
tanggungjawab untuk menyerahkan keindahan itu kepada orang yang
berhak untuk menerimanya dari kita. Meniru sang kupu-kupu bisa
membantu kita terbebas dari sifat tamak. Sehingga, ketika tiba saat
untuk menyerahkan kursi itu kepada orang lain, tidak terasa berat.
Saya mengerti bahwa sikap seperti ini agak sulit untuk diterima akal.
Tak lazim. Terutama dijaman ketika orang saling berlomba untuk
memperebutkan kedudukan dan jabatan. Tapi, saya mengenal seseorang
yang berjibaku ketika keadaan serba sulit. Berusaha mati-matian untuk
membangun sesuatu pada saat segalanya masih belum berbentuk. Namun,
ketika berhasil membenahi segala sesuatunya; dia malah melepaskan
kesempatan untuk mereguk nikmat hasilnya. Baginya, tugas itu sudah
selesai. Lalu, secara perlahan namun pasti dia menarik diri dan
menyerahkan sepenuhnya pencapaian itu kepada orang lain.
Lantas, apa yang didapatkan sang kupu-kupu setelah semua susah dan
jerih itu? Mengapa dia memilih untuk bergegas mati? Bukankah tidak
sebaiknya dia menikmati semua itu sedikit lebih lama lagi? Menggapa
setelah seseorang bersusah payah membangun sesuatu harus menyerahkan
hasil kerja kerasnya kepada orang lain? Rangkaian pertanyaan ini
mengantar kita kepada kesadaran yang ketiga.
Sang kupu-kupu mengingatkan kita tentang hadiah terindah yang
disediakan bagi orang-orang yang berhasil membuat hidupnya
bermakna. “Hey, ketahuilah.. .” begitu sang kupu-kupu berkata. “Tuhan
telah menyediakan hadiah yang lebih indah dialam keabadian yang
menanti kita…..” lanjutnya. Oh, rupanya kebahagiaan hakiki itu
adanya tidak dialam material. Manusia-manusia yang tak henti berbuat
kebajikan dihibur oleh kabar bahwa; semua perbuatan baiknya untuk
orang lain pasti berbalas kebaikan. Dan Tuhan sudah menyediakan
hadiah untuk setiap kebajikan yang diperbuatnya. Apakah anda meyakini
hal itu?
Apakah anda juga yakin bahwa hadiah dari Tuhan lebih indah dibanding
apapun yang bisa disediakan manusia? Saya meyakini itu. Dan sekarang
kita mengerti; mengapa sang kupu-kupu mengajari kita untuk berlapang
dada ketika menyerahkan kesuksesan yang kita bangun itu kepada orang
lain. Karena, rupanya, ada imbalan lain yang jauh lebih bernilai
dimata Tuhan. Sang kupu-kupu mengajarkan bahwa yang terpenting bagi
kita adalah membaktikan diri bagi apapun yang kita tekuni. Lalu,
mengijinkan orang lain menikmatinya. Karena, bagi kita. Sudah
disediakan. Hadiah. Yang lebih. Indah.
Ya seandainya terjadi padaku….aq susah2 bangun usaha,seandainya suatu saat memang bukan aq yang meneruskan,aq anggap bukan rejeki q,daripada aq takut kehilangan usaha yang aq bangun,lebih baik aq belajar bahwa tiada yang kekal di dunia ini,jadi hidup q bisa lebih tenang q jalani…semoga ALLAH SWT selalu memberiku yang terbaik….aq selalu dijauhkan dari kesulitan materi juga kesulitan hati…..AMIEN…AQ SERAHKAN HIDUP Q KEPADA MU YA TUHANKU……JAGALAH AQ JUGA ANAK-ANAKKU…BERILAH AQ SELALU KEIKHLASAN DALAM MENJALANI HIDUP INI….