Rasulullah saw. menganjurkan kita untuk bermurah hati kepada siapapun. Orang yang murah hati akan disukai masyarakat dan dicintai Allah, mendapatkan curahan rahmat dan ampunan, rezekinya dilapangkan dan kehidupannya tentram serta sejahtera.
Sebaliknya sifat kikir dan bakhil diketegorikan sebagai sifat tercela yang harus ditinggalkan. Rasulullah saw. bersabda, “waspadalah terhadap sikap zalim, karena kezaliman akan menjadikan kegelapan di hari kiamat. Waspadalah terhadap sifat kikir, karena kekikiran adalah sifat yang telah menghancurkan umat-umat sebelummu. Sifat ini mendorong mereka tega melakukan pembunuhan dan melakukan hal-hal yang haram.” (HR. Muslim).
Perhatikanlah doa Rasulullah saw. yang diriwayatkan oleh sahabat anas, berikut ini,
“Ya Allah. Saya mohon perlindungan kepada-Mu dari sifat kikir dan malas, juga dari pikun, azab kubur dan cobaan semasa hidup dan setelah mati.” (HR. Muslim).
Allah SWT. berfirman, (yang artinya):
“…Dan barang siapa dijaga dirinya dari kekikiran, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. At-Taghaabun:16).
Murah hati dan dermawan merupakan dua sifat yang sudah menjadi tradisi kuat dalam kehidupan umat islam, dua sifat ini merupakan sebagian kecil dari akhlak-akhlak mulia umat islam yang bisa dirasakan dalam kehidupan keseharian. Bukti kesempurnaan iman seseorang.
Dalam bahasa Arab, kemurahan hati disebut dengan istilah “al-karam”. Kata ini mempunyai arti memberikan harta berharga miliknya dengan penuh kerelaan hati, atau membelanjakan harta miliknya untuk kebaikan.
Al-Qadhi Iyadh menyatakan bahwa kata al-karam, al-juud, dan as-sakha’ memiliki arti yang hampir mirip, namun sebagian ulama menegaskan bahwa ketiga kata tersebut mempunyai perbedaan arti dan penggunaan. Bagi mereka yang mendukung pendapat ini maka mereka mengartikan al karam dengan memberikan harta secara suka rela tidak disertai dengan kekhawatiran. As-sakha’ diartikan dengan suka memberikan harta kepada pihak lain dan tidak senang melakukan pekerjaan-pekerjaan yang tidak terpuji, dengan demikian maka arti kata as-sakha’ merupakan antonim dari kata at-taqtiir (kikir). Sedangkan kata al-juud berarti merelakan sepenuh hati harta miliknya yang ada di tangan orang, sehingga arti kata al-juud merupakan antonim dari kata asy-syikaayah (perasaan menyesal dan dongkol). [Asy-Syifaa’, 1/58]
Namun dalam kitab al-Ma’aajim al-Lughawiyyah tidak menerangkan perbedaan penggunaan ketiga kata ini, bahkan kitab ini menegaskan bahwa ketiga kata tersebut mempunyai arti yang sama.
Dari sekian banyak macam implementasi sifat murah hati, ada satu hal yang banyak disorot, yaitu bermurah hati kepada tamu, dengan cara menyambut dan menjamunya dengan baik. Bahkan sikap seperti ini adalah merupakan indikator kedalaman iman seseorang.
Dengan didasari prinsip kasih sayang dan kemuliaan islam, Rasulullah saw. menetapkan beberapa aturan untuk menghormati tamu. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Sa’id al-Khudri, Rasulullah menegaskan, “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya ia memuliakan tamunya.” Beliau mengucapkan kalimat ini sampai tiga kali. Kemudian para sahabat bertanya, “Bagaimana cara memuliakan tamu, wahai Rasulullah ?” Rasulullah menjawab. “Yaitu (dengan cara memberi jamuan kepada mereka) selama tiga hari. Adapun penghormatan/jamuan yang diberikan setelah itu adalah termasuk sedekah.” (HR. Ahmad, Abu Ya’la, dan al-Bazzar).
Al-Qur’an sangat menganjurkan sikap kedermawanan dan kemurahan hati. Allah SWT. berfirman, (yang artinya):
“Kamu tidak akan memperoleh kebajikan, sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apapun yang kamu infakkan, tentang hal itu sungguh, Allah Maha Mengetahui.” (QS. Ali ‘Imran:92).
“Barang siapa meminjami Allah dengan pinjaman yang baik maka Allah melipatgandakan ganti kepadanya dengan banyak. Allah menahan dan melapangkan (rezeki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.” (QS. Al-Baqarah:245).
Disisi lain Al-Qur’an juga menyinggung sifat kikir dan bakhil. Allah SWT. berfirman (yang artinya):
“Dan jangan sekali-kali orang-orang yang kikir dengan apa yang diberikan Allah kepada mereka dari karunia-Nya, mengira bahwa (kikir) itu baik bagi mereka, padahal (kikir) itu buruk bagi mereka. Apa (harta) yang mereka kikirkan itu akan dikalungkan (di lehernya) pada hari kiamat…” (QS. Ali ‘Imran:180)
“…Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menginfakkannya dijalan Allah, maka berikanlah kabar gembira kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) azab yang pedih, (ingatlah) pada hari ketika emas dan perak dipanaskan dalam neraka jahannam, lalu dengan itu disetrika dahi, lambung dan punggung mereka (seraya di katakana) kepada mereka, ‘inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah (akibat dari) apa yang kamu simpan itu’.” (QS. At-Taubah:34-35).
Membahas masalah kedermawanan dan kemurahan hati, Rasulullah adalah teladan utama yang harus menjadi panutan. Kedermawanan sudah menjadi karakter yang lekat dengan pribadi beliau, kemurahan hatinya bukan didorong oleh keinginan menyombongkan diri atau untuk dipuji, namun sikap mulia ini beliau lakukan atas dasar keikhlasan untuk mendapatkan keridhaan Allah SWT.
Rasulullah sangat perhatian terhadap anak yatim dan fakir miskin. Beliau sering memberi bantuan kepada umat Islam yang miskin yang tidak mampu bekerja atau yang hartanya habis karena untuk mendanai perjuangan fi sabilillah. Kedermawanannya sampai pada taraf mengalahkan kepentingan pribadi dan keluarganya. Kadang beliau memberikan sesuatu kepada seorang fakir padahal sebenarnya beliau sangat membutuhkan barang itu. Beliau mampu melakukan hal ini karena hatinya dihiasi dengan kesabaran dan disinari dengan sikap zuhud, hatinya tidak terikat dengan masalah keduniaan.
Al-Qur’an menegaskan, bahwa sikap al-iitsaar (lebih mementingkan orang lain) adalah sikap kedermawanan tertinggi dari bentuk-bentuk kedermawanan lainnya. Allah SWT. berfirman (yang artinya):
“…dan mereka mengutamakan (Muhajirin), atas dirinya sendiri, meskipun mereka juga memerlukan…” (QS. Al-Hasyr:9).
Diceritakan oleh sayyidah Aisyah, bahwa Rasulullah saw. tidak pernah merasa kenyang dalam waktu tiga hari berturut-turut, kondisi ini beliau alami hingga akhir hayatnya. “sebenarnya kalau kami mau,” kata Aisyah, “Kami akan kenyang tiap hari, namun kami lebih mementingkan orang lain dari pada diri kami sendiri.” [Ihyaa’ Uluumiddiin, 3/223]
Meskipun kehidupan Rasulullah saw. sangat sederhana, namun dalam masalah berinfak, beliau sangat perhatian sekali. Beliau selalu berusaha mengeluarkan bantuan atau infak sesuai dengan kemampuannya. Rasulullah selalu menganggap kecil harta yang diinfakkan, padahal jumlahnya sangat besar. Setiap kali ada orang yang meminta bantuan kepadanya, beliau pasti memberi apa yang dipunyai. Rasulullah saw. tidak pernah menolak permintaan siapa pun.
Suatu hari datang seseorang meminta bantuan kepada Rasulullah saw. kemudian beliau memberinya sejumlah domba yang memenuhi lapangan diantara dua gunung. Lalu orang tersebut kembali ke kaumnya dan berkata, “Masuk Islamlah kalian. sesungguhnya Muhammad tidak takut kekurangan (fakir) disaat memberi bantuan.”
Masih banyak cerita lain tentang kemurahan hati Rasulullah saw. diantaranya, adalah:
Pada suatu hari Rasulullah saw. diberi sejumlah uang dari Bahrain, beliau berkata kepada para sahabat, “Taruhlah (uang itu) di masjid!” Uang tersebut termasuk uang terbanyak yang pernah diterima. Kemudian beliau keluar rumah menuju masjid untuk melakukan shalat berjamaah. Beliau sama sekali tidak mempedulikan uang itu. Setelah selesai shalat, beliau menuju tempat dimana uang itu diletakkan dan duduk disampingnya. Setiap kali melihat ada orang yang lewat beliau memberinya uang tersebut hingga tidak ada satu dirham pun yang tersisa.
Karena dermawannya, Rasulullah tidak pernah menolak orang yang meminta-minta kepadanya dengan alasan sedang tidak mempunyai uang. Pada suatu hari Rasulullah saw. kedatangan saorang tamu yang meminta bantuan kepadanya. Kemudian Rasulullah berkata, “Saya sedang tidak punya apa-apa. Juallah sesuatu dan saya yang akan menanggung (barang itu kembali kepadamu lagi). Bila saya sudah punya uang saya akan mengganti biaya barangmu (yang kamu jual itu).” Melihat hal ini Umar berkata, “Wahai Rasulullah. Engkau sudah pernah memberinya bantuan sebelum ini. Allah tidak membebanimu dengan hal yang engkau tidak kuasa menanggungnya,” Rasulullah kurang senang dengan usulan Umar ini. Kemudian ada seorang Anshar yang berkata, “Wahai Rasulullah. Teruslah memberi nafkah. Jangan khawatir, Tuhan pemilik ‘Arasy tidak akan membuatmu kekurangan.” Mendengar ucapan ini beliau tersenyum dan tampak ada kegembiraan terpancar dari wajah mulianya. Kemudian beliau berkata, “Sikap seperti inilah, yang diperintahkan kepada saya untuk melakukannya.” [Al-Mawaahib al-Laduniyyah, 209]
Rasulullah saw. selalu bersikap murah hati kepada siapapun, kepada laki-laki, perempuan dan juga anak-anak.
Sahabat Jabir berkata, “Ketika Rasulullah sedang duduk, ada anak kecil datang menghampiri dan berkata kepadanya, ‘Sesungguhnya ibuku meminta pakaian darimu.’ Rasulullah saw. menjawab, ‘Nanti sebentar lagi, ketika siang datang kamu datang kesini lagi.’ Anak kecil itu kembali menghadap ibunya, dan ibunya berkata kepadanya, ‘Kembalilah kamu kpada Rasulullah dan berkatalah kepadanya, ‘Ibuku meminta baju yang kamu kenakan.’ Anak itu pun kembali kepada Rasulullah dan mengutarakan keinginan Ibunya. Rasulullah kemudian masuk ke dalam rumah, melepas pakaian yang dikenakannya dan memberikannya kepada anak kecil itu. Saat itu waktu shalat tiba, Bilal sudah selesai mengumandangkan adzan dan kaum muslimin menunggu Rasulullah mengimami shalat. Namun Rasulullah tidak kunjung keluar karena masih berbenah diri sebab bajunya diberikan kepada anak kecil itu.” [Al-Kasysyaaf, 1/546]
Suatu hari ar-Rabi’ binti Mu’awwidz datang kepada Rasulullah dengan membawa nampan penuh dengan kurma dan buah-buahan. Ketika hendak pulang Rasulullah memberinya perhiasan dan emas sebanyak genggaman tangan beliau. Hal ini –sebagaimana dikatakan oleh Aisyah– setiap kali Rasulullah menerima hadiah, beliau memberi balasan kepada orang yang memberinya hadiah itu.
Rasulullah saw. sangat senang bila ada hidangan yang dimakan bersama-sama. Semakin banyak orang yang bergabung, beliau semakin senang. Bila bulan Ramadhan tiba, tidak ada satu pun hidangan yang disimpan oleh beliau di dalam rumahnya. Rasulullah adalah orang yang paling dermawan dan murah hati.
Ada seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah saw., Sedekah yang bagaimanakah yang paling utama ? Rasulullah menjawab, “Yaitu sedekah yang kamu berikan di saat kamu dalam keadaan sehat dan masih punya semangat tinggi, masih punya harapan untuk kaya dan khawatir miskin. Jangan kamu menunda-nunda (memberi sedekah) hingga nyawa sampai tenggorokan dan kamu baru berkata, untuk fulan mendapat bagian sekian, fulan mendapat bagian sekian dan yang ini untuk si fulan.” (HR. al-Bukhari)
Ada seorang sahabat lagi yang bertanya, Amalan-amalan Islam yang bagaimanakah yang paling baik ? Rasulullah menjawab, “Kamu mau memberi makan, mengucapkan salam kepada orang yang kemu kenal dan orang yang tidak kamu kenal.”
Rasulullah pernah berkata kepada Asma binti Abu Bakar, “Berinfaklah. Janganlah kamu menghitung-hitung (hartamu [kikir]), nanti Allah akan menghitung (kejelekan-kejelekan)mu. Jangan pula kamu menyembunyikan (hartamu), nanti Allah akan menyimpan (kejelekan-kejelekanmu untuk kemudian dibeberkan di hari Akhir).” [Al-Lu’lu’ wal-Marjaan, 1/244]
Rasulullah saw. juga menerangkan perbandingan antara dermawan dengan orang yang kikir. Beliau bersabda, “Seorang dermawan dekat dengan Allah, dekat dengan manusia dan dekat dengan surga. Adapun orang yang kikir jauh dari Allah, jauh dari manusia, jauh dari surga dan dekat dengan neraka.” [Taysiirul-Wushuul, 2/88]
“Disaat para hamba (memulai aktivitas) di pagi hari ada dua malaikat yang turun ke bumi. Salah satu diantara mereka berdoa, ‘Ya Allah, berikanlah ganti orang yang mau berinfak’. Sedangkan yang satunya lagi berdoa, ‘Ya Allah, berikanlah kehancuran kepada orang yang enggan berinfak’.”
Diringkas dari: Akhlak Rasul Menurut Bukhari-Muslim, penulis Abdul Mun’im al-Hasyimi, diterjemahkan oleh Abdul Hayyie al-Kattani, Gema Insani, 2009.
Bab. Murah Hati dan Menjamu Tamu dengan Baik.